Husin Rayesh Mallaleng

Making a difference to the lives of people

NOSTALGIA DI BANJARMASIN

Banjarmasin, 22 Juli 2010

Hari Pertama

Perjalanan 50 menit dari Surabaya ke Banjar(masin) dengan Lion tak terasa sudah sampai ke Bumi Lambung Mangkurat.

Landasan udara tampaknya baru saja diguyur hujan deras sehingga kelihatan basah dan becek.

Tak terasa 16 tahun lewat sudah, aku meninggalkan kota ini dengan segala suka dan dukanya.

Cukup banyak perubahan kota di sana sini, jalan dari Bandara ke pusat kota tampak mulus beraspal. kanan-kiri banyak bangunan baru dengan berbagai iklan produk dan jasa pelayanan.

Masuk ke KM 2 tak terasa ramai kendaraan roda dua. kesemrawutan terasa di mana-mana karena lebar jalan tetap dari dulu sampai sekarang, cuma lebih mulus. Kanan jalan, tampak Duta Mall yang katanya terbesar dan termoderen. Dulu Hotel Kalimantan menjadi favorit pendatang untuk menginap, namn sekarang kelihatannya tampak kumuh dan sedang direnovasi. Maunya ke situ, karena renovasi akhirnya ke hotel sebelahnya yaitu Grand Mentari dengan pangkat bintang tiga. setelah check in dan dapat potongan 30 %, perjalan sore diteruskan dengan taxi blue, dengan tarip awal Rp.40.000. Perjalan nostalgia diteruskan dengan supir taxi sebagai nara sumber, mengelilingi jalan Lambung Mangkurat, Ahmad Yani,Kahuripan dan belok kiri ke jalan Veteran. Lebar jalan Veteran masih seperti dulu, tapi sudah padat dengan bangunan, toko termasuk TB Gramedia.

Menyusuri jalan Veteran karena pernah tinggal di sana, banyak kuliner termasuk satu restoran terbesar sea food Nelayan. Perjalanan diteruskan terus melewati Cempaka dan sampai ke Pelabuhan Trisakti lalu balik ke kota lagi. Sekarang diteruskan cari isi perut ke arah jalan Gatot Subroto. Di sana terdapat restoran ikan bakar terbesar dan teramai di Banjarmasin, namanya Pusat Ikan Bakar Asian. tampaknya malam ini restauran ini ramai dikunjungi domestik lokal maupun asing. yang menarik dari restauran ini dibandingkan restaurant ikan bakar di Makassar, Surabaya, Jakarta atau di manapun kota tempat saya kunjungi adalah, alas meja berlapis kertas sekitar rangkap delapan. setiap kali membersihkan, alas meja yang terbuat dari kertas tersebut cukup digulung dan dibuang (disposible)! Jadi pelayan tidak usah repot membersihkan atau melap, karena di bawahnya sudah tersedia alas kertas yang lain, woh…a goog idea, perlu ditiru!

Setelah kenyang, aku kembali ke hotel dan maunya terus lihat live-music, ternyata kecele,kenapa? Ternyata hampir semua cafe, restauran dan hotel di sini, sabang malam jumat tidak ada acara live-music atau karaoke, yang ada dan bisa dinikmati hanyalah Bilyard sebagai olahraga. Akhirnya aku masuk kamar dan mulai siap-siap tidur.

Tapi jangan kaget, kalau bangunan hotel di sini kadang terasa goyang atau gempa bumi skala kecil. kayaknya di semua hotel. apa karena tanahnya bergambut? mungkin saja. Ah ..EGP lah.

Hari Kedua

Juli 22, 2010 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Napak Tilas ya pak ,… tulisan perjalanannya seperti reportase acara di TV pak , ditambah Foto rekaman perjalanan , … bisa dikirim di majalah , koran atau acara perjalanan wisata film dokumenter ,… kalau kita ke BMM kita bisa lihat juga ya Pak ,…
    Sukses untuk Pak Husin dan BMMM

    Komentar oleh ari | Juli 26, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: