Husin Rayesh Mallaleng

Making a difference to the lives of people

BU MENKES RI : SAATNYA DUNIA BERUBAH

Menkes RI

SURABAYA, Senin 7 Juli kemarin, kami menghadiri undangan rektor UNAIR Surabaya dalam rangka bedah buku Bu Menkes RI di Gedung Rektor UNAIR. Surabaya. Hadir berbagai undangan mulai dari pihak rektorat UNAIR, guru besar UNAIR, para direktur RS baik Daerah dan swasta se Jawa Timur serta para pejabat Dinkes Propinsi Jawa Timur.

Buku yang berjudul : Saatnya Dunia Berubah, ditulis oleh DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K),Cetakan Pertama, 2007 penerbit Departemen Kesehatan dengan 182 halaman, dikupas secara gambling dan menarik. Mengingatkan saya akan buku-buku karangan CEO Jawapos,Dahlan Ishkan, terasa hidup dan pas.
Dengan piawai, Siti Fadilah berhasil memblejeti dan mendesak Amerika Serikat agar mau ikut mengubah sistem di dalam World Health Organization (WHO). Berbagai kekecewaan pada WHO dan negara-negara maju memaksa Menkes Fadilah bersikap tegas dan memilih tidak menjadi anak manis yang mudah diiming-iming dengan berbagai bantuan asing seperti beberapa pendahulu-pendahulunya, apalagi setelah ketahuan Australia telah membuat vaksin flu burung strain Indonesia dengan modal mencuri sampel virus H5 N1 diWHO.
Saya kagum dengan keberanian Ibu Menkes DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP (K) yang mengungkapkan bagaimana konspirasi global yang telah berlangsung 60 tahun lewat WHO. Secara terus terang, Ibu Siti Fadilah menggambarkan bagaimana sebuah sistem manipulatif dan ilegal yang bernama GISN (Global Influenza Surveilance Network) yang berada dalam yuridiksi Amerika Serikat selama puluhan tahun berada dalam WHO, dan atas nama WHO merampas semua virus influenza, kemudian menjualnya pada industri vaksin atau diambil untuk kepentingan pengembangan Biological Weapon.
Ibu Siti Fadilah mendesak Amerika Serikat agar mau ikut mengubah sistem di dalam World Health Organization (WHO). Australia telah membuat vaksin flu burung strain Indonesia dengan modal mencuri sampel virus H5 N1 di WHO. Sebanyak 58 sampel virus strain Indonesia telah dikirimkan ke WHO dan ternyata saat ini telah beredar di berbagai industri vaksin. Beberapa perusahaan justru telah mempatenkan tanpa ijin Indonesia. Sebuah laboratorium senjata biologis di Los Alamos bahkan telah menyimpan seed virus flu burung asal Indonesia.
Menkespun berang dan segera menghentikan pengiriman virus ke Collaborating Center WHO, tanpa Material Transfer Agreement (MTA). Ibu Siti Fadilah menuntut agar WHO menjadi lebih adil, transparan, dan setara. Lebih jauh lagi, ia menuntut penghapusan L’Exploitation de l’home par l’home (penindasan manusia atas manusia yang lain).

Berbagai upaya tipu daya, bujukan, dan ancaman telah dilancarkan pada Siti Fadilah, namun semua bisa dilewati dengan bergeming. Lobby dan tekanan Amerika dalam pertemuan WHO sampai percobaan pembunuhan di Iran justru membangkitkan dukungan dunia pada Indonesia yang sedang melancarkan boikot pengiriman virus.
Secara bilateral, Indonesia merintis pembuatan vaksin flu burung strain Indonesia dengan Baxter. Saat ini, pembuatan vaksin sedang dalam tahap uji coba. Hal yang sama juga sedang dirintis bersama Iran.

Departemen Kesehatan juga telah menugaskan BUMN Indofarma untuk membuat Tamiflu 75 mg tablet. Bersama Temasek dari Singapura, Departemen Kesehatan membuat Early Detection Kit (alat deteksi dini) flu burung.

Salut sekali lagi ama bu Menkes kita, seandainya para pemimpin kita memiliki kompetensi teknis dan manajerial semacam ini bukan hanya politis maka suatu waktu kita akan menjadi bangsa yang disegani oleh Negara lain.

Tak ada yang mengira bu Menkes yang pada waktu pertama kali menjabat banyak dihujat orang khususnya dari kalangan kesehatan sendiri, baik dari senior maupun dari kalangan sejawat sendiri antara lain disertasinya yang dianggap tiruan, persoalan gender yaitu kok peempuan?, kok bukan dari UI, kok bukan professor ? serta kok-kok yang lain, tetapi malah mampu melakukan hal hal besar yang belum pernah dilakukan oleh pendahulunya.

Beliau sudah saya kenal sejak ppertema ketemu di Banda Aceh (6 Juni 2005) ketika memimpin rapat untuk mengatasi tsunami Aceh, juga waktu kongres ISFI di Bali 2005, usul penulispun diterima agar segera membuat KEBIJAKAN OBAT TRADISIONAL (KOTRANAS) dan tidak terlalu lama awal januari 2007 keluarlah Permenkes tentang Kebijakan Obat Tradisional. Beliau juga salah satu pengembang fitofarmaka Tesigard yang diproduksi oleh Phapros Semarang.  Beliau juga orang yang sangat rendah hati, tak peduli siapapun yang akan bertanya, pasti dijawab, termasuk penulis. Proficiat Bu Menteri. Kami tunggu gebrakan-gebrakan selanjutnya.

Misalnya : 1. Rasionalisasi obat-obat yang irrasional

2. Penerapan INA DRG di semua RS agar Jamkeskin terlayani dengan baik

3. Reformasi ASKES dari Pusat sampai daerah

4. Tegakkan BPOM sebagai Badan Pengawas Pengawasan bukan Regulator

5. Lindungi pengusaha IKOT yang modal kecil maupun UKM Kosmetik

6. Tinjau lagi kebijakan HARMONISASI ASEAN  yang hanya menguntungkan modal besar

HUSIN MALLALENG

Juli 8, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: