Husin Rayesh Mallaleng

Making a difference to the lives of people

Dewan Pimpinan Daerah Pormiki Jawa Timur telah menyelenggarakan “Pelatihan INA DRG Dan Akreditasi RS Pelayanan Rekam Medis” di Hotel FORTUNA Surabaya dari tgl 4-6 Juli 2008.

Sehubungan dengan akan diberlakukannya SK Menkes Nomer : 989/Menkes/2007 tentang Pelaksanaan INA DRG (Indonesia Diagnostic Related Group) yang akan diberlakukan mulai tanggal 1 Juli 2008 di seluruh rumah sakit. Yang salah satu komponen penting didalamnya adalah pemahaman tentang ICD-10 Versi 2007 dan ICD 9 CM. Serta akreditasi rumah sakit adalah menjadi salah satu syarat untuk perijinan rumah sakit. Maka sudah selayaknya PORMIKI Cab Jatim sebagai organisasi profesi yang bergerak dibidang kesehatan segera tanggap akan kebutuhan anggotanya dan senantiasa selalu berupaya meningkatkan kualitas pelayanan.

Menurut ketua Panitia seminar Zainal Arifin AMD yang merupakan salah satu alumn iAngkatan  I APIKES (AKADEMI PEREKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN) PENA HUSADA Surabaya yang milik Yayasan RS Dr Sutomo Surabaya ini, seminar ini diikuti 50 peserta dari berbagai RS baik pemerintah maupun swasta yang ada di Jawa Timur. Hadir sebagai pembicara dalam pertemuan ini

1. dr. Rano Indradi Sudra, M.Kes
(Konsultan Manajemen Informasi Kesehatan dan Dosen dibeberapa perguruan tinggu kesehatan)
2.
Elise Garmelia, A.Md.PerKes, SKM
(Pengurus DPP Pormiki – Jakarta)
3. drg. Arief Setyoargo, MMR
(MMR Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)
4. Pengurus DPD PORMIKI Prov. Jawa Timur

Model DRG itu sebenarnya bukan hal baru. Model itu telah dilakukan di dunia sejak 1983. Tetapi konsep itu digunakan dalam konsep asuransi. Pihak perusahaan asuransi membayar kepada rumah sakit.

Model pembayaran dengan INA-DRG, tidak bisa diterapkan begitu saja di rumah sakit daerah tanpa persiapan matang.

INA-DRG atau yang sebelumnya disebut “Case-Mix” adalah sistem pembayaran pelayanan kesehatan dalam bentuk paket yang besarnya ditentukan berdasarkan klasifikasi jenis penyakit dan prosedur atau tindakan pelayanan di rumah sakit.

Bila pembayarannya dilakukan dengan model INA-DRG, pemerintah akan “kebobolan”. Karena pembayarannya menggunakan sistem “borongan” berdasarkan diagnostik penyakit. Setiap penyakit punya “harganya” sendiri-sendiri.

Jika tarif DRG itu dipakai, risikonya sangat besar, karena besaran tarif itu belum pernah diuji dan dikaji sebelumnya. Bagaimana bisa menghitung-hitung cukup atau tidak kalau belum pernah diujicobakan.

Model INA-DRG itu mungkin menguntungkan untuk rumah sakit. Tetapi, dari hasil diskusi dengan Asosiasi Rumah Sakit Daerah (Arsada), pihak rumah sakit juga tidak berani. Karena belum pernah diterapkan, mereka juga tidak tahu apakah INA-DRG itu cocok.

Pihak rumah sakit akan rugi jika penyakitnya parah sekali, tapi rumah sakit juga bisa diuntungkan dari model itu jika penyakitnya ringan karena tidak menggunakan obat dan fasilitas kesehatan yang seharusnya

Bila kita menggunakan pola baru yang belum diuji, risikonya patut diperhitungkan, karena rakyat bisa saja tidak terlayani. Depkes bisa rusak namanya. Dananya juga kebobolan. Sah-sah saja jika pemerintah ingin menggunakan pola baru, tetapi harus hati-hati.


Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 989/Menkes/SK/IX/2007 tentang pemberlakuan INA-DRG, menurut dia, juga tidak bisa secara otomatis menggugurkan peraturan daerah yang mengatur tentang tarif rumah sakit daerah.

Penerapan standar tarif baku rumah sakit ditujukan untuk mendorong terciptanya transparansi pembiayaan pelayanan rumah sakit, memacu rumah sakit melakukan efisiensi, meminimalkan kesalahan manusiawi, dan meningkatkan komitmen rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan

Husin RM

Pembina DPP Pormiki Jatim

Juli 5, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: