Husin Rayesh Mallaleng

Making a difference to the lives of people

PELUANG EKSPOR BAHAN BAKU OBAT TRADISIONAL

Pasar bahan baku biofarmaka merupakan keragaan supply dan demand dari bahan baku biofarmaka yang dibutuhkan oleh pabrik, dibedakan atas rimpang dan simplisia. Demand dan kebutuhan akan jenis biofarmaka yang diperlukan oleh industri obat tradisional, baik IKOT maupun IOT, juga sangat variatif. Hampir semua jenis biofarmaka dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan obat tradisional/jamu oleh berbagai industri obat tradisional Indonesia. Namun demikian, ada beberapa jenis biofarmaka budidaya yang dibutuhkan industri obat tradisional dalam jumlah besar, antara lain jahe (Zingiber officinale Roxb.) sebesar 5 000 ton/tahun, kapulogo (Ammomum cardamomum Auct.) 3 000 ton/tahun, temulawak (Curcuma aeruginosa Roxb.) 3 000 ton/tahun, adas (Foeniculum vulgare Mill.) 2 000 ton/tahun, kencur (Kaempferia galanga L.) 2 000 ton kering/tahun, kunyit (Curcuma domestica Val.) 3 000 ton kering/tahun dan 1 500 ton basah/tahun.
Berbagai jenis biofarmaka budidaya yang dibutuhkan oleh pabrik PT Sidomuncul, PT Air Mancur, PT Indo Farma, Dayang Sumbi, CV Temu Kencono, Indotraco, PT Nyonya Meneer, Herba Agronusa dan Jamu Jenggot, merupakan sebagian dari serapan simplisia biofarmaka oleh 10 industri besar dan 12 industri menengah obat tradisional di Indonesia. Di pasar domestik, rimpang temulawak (Curcuma aeruginoso Roxb.) dan rimpang jahe (Zingiber officinale Roxb.) merupakan dua jenis biofarmaka budidaya yang banyak dipasok oleh petani untuk industri obat tradisional, baik industri besar maupun menengah, yaitu rata-rata 310 870 kg/tahun dan 272 854 kg/tahun.
Di Indonesia, komoditas jahe (Zingiber officiniale Rosc.) yang memiliki demand cukup tinggi baik di pasar domestik, disesuaikan dengan bentuk, ukuran dan warna rimpangnya. Tiga jenis jahe yang berprospek adalah jahe putih besar (jahe gajah), jahe putih kecil dan jahe merah. Diantara ketiga jenis jahe tersebut, jahe gajahlah yang memiliki demand terbesar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Demand jahe dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan trend peningkatan konsumsinya, yaitu dengan pertumbuhan 18,71 % setiap tahunnya selama periode 1984- 1990. Demand jahe gajah di pasar domestik, seperti catatan Koperasi BPTO (Kobapto) Kab. Tawangmangu, Jawa Tengah, berkisar 5 000 ton per tahun. Hampir semua industri obat tradisional di Jawa Tengah membutuhkan jahe gajah sebagai bahan baku produksinya, seperti PT Sidomuncul membutuhkan sekitar 15 ton per bulan, PT Air Mancur 15 ton per bulan, CV Temu Kencono 10 – 12 ton per tahun dan PT Indotraco 40 ton per bulan .Rimpang jahe juga banyak dimanfaatkan oleh 10 industri besar obat tradisional dan 12 industri obat tradisional menengah pada tahun 1995 – 1999, yaitu sebanyak 1.364.270 kg. Sedangkan menurut Survey SUBDIT ANEKA TANAMAN (2001), jumlah kebutuhan jahe dalam negeri adalah 36.200 kg/bulan. Untuk kebutuhan lokal, demand komoditas jahe gajah yang meningkat seiring dengan semakin banyaknya pabrik jamu, farmasi, dan kosmetik banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), bahan makanan, minuman dan kosmetika.
Disamping meningkatnya jumlah IKOT dan IOT, potensi pasar dalam negeri di Indonesia masih terbuka lebar dengan adanya kebiasaan masyarakat Indonesia meminum jamu. Survey perilaku konsumen dalam negeri menunjukkan 61,3 % responden mempunyai kebiasaan meminum jamu tradisional. Hal ini menunjukkan bahwa budaya minum jamu yang merupakan tradisi leluhur sebagian bangsa Indonesia sudah memasyarakat. Ini adalah potensi besar untuk mengembangkan pasar domestik dari produk biofarmaka.
Demikian pula halnya dengan biofarmaka yang lain. Jika dilihat dari prospeknya, maka pemasaran di luar negeri bukanlah masalah karena pasar biofarmaka ini masih belum optimal dan terbuka lebar, sementara pasokannya jauh lebih kecil. Tanaman kapulaga (Ammomum cardamomum Auct.) misalnya, dari demand negara Cina yang berjumlah 400 ton per bulan, negara Indonesia baru bisa men-supply 40 ton atau hanya sekitar 10 % -nya. Komoditas kapulaga ini selain diminta negara Cina, juga diminta oleh negara Singapura, Korea dan Hongkong. Dari demand negara Singapura akan kapulaga gelondong sebesar 180 ton per tahun, Indonesia baru dapat memenuhi sebesar 80 ton kapulaga gelondong per tahun. Sementara demand Singapura untuk kapulaga kupasan 72 ton per tahun tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan bahan dan teknologi yang dimiliki oleh para petani dalam negeri. Permintaan kapulaga kupasan oleh negara Korea sebesar enam ton/tahun dan negara Hongkong sebesar lima ton per tahun, juga tidak terpenuhi.Contoh lainnya adalah tanaman cabe jawa (piper retrofractum), dari permintaan dunia yang berjumlah 6.000.000 ton, Indonesia baru bisa mensuplai 1/3 nya. Sama halnya dengan komoditas tanaman kencur (Kaemferia Galanga, Linn), yang harganya mencapai US$ 1.100/ton, dari permintaan ekspor dunia sebesar 200 – 300 ton per tahun hanya terpenuhi sekitar 62 ton per tahun. Disamping itu, Indonesia tidak dapat memenuhi demand pasar dunia internasional akan komoditas bangle (Zingiber purpureum Roxb.) dan biofarmaka lempuyang (Zingiberis aromaticum dan Zingiberis zerumbeti)(berbagai sumber).
Bagaimana teman2 IKOT di Jawa Timur?

Mei 23, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: