Husin Rayesh Mallaleng

Making a difference to the lives of people

Permenkes No.267/SK/III/Menkes Tentang Pedoman Struktur DINKES

STRUKTUR DINKES PROPINSI PASCA KELUARNYA KEPMENKES RI NO 267/MENKES/III/2008 ?

Menarik dicermati juknis Menkes RI tentang Pedoman Struktur organisasi Dinkes Propinsi di Jawa Timur yang akan diberlakukan oleh Gubernur/Walikota/Bupati di daerah.

Apakah para kepala daerah ini akan “mbalelo” atau dengan berbagai alasan tidak mengikuti juknis Menkes RI ini. Mengingat Juknis ini sudah diedarkan oleh MENDAGRI ke seluruh Gubernur/Bupati/Walikota seluruh Indonesia melalui SE MENDAGRI No. 061/1489/SI tentang Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah. Surat Edaran ini Mendagri ini walaupun hanya pedoman, bukan PP atau Instruksi tapi kurang kuat sebagai dasar hokum karena alasan PERDA kan lebih kuat dari peraturan Menteri. Seribu satu alasan para eksekutip untuk menyimang dari suatu pedooman agar KKN terjadi. Oleh seba itu butuh pengawasan kita semua, LSM, organisasi profesi, wartawan agar pedoman ini bisa dilaksanakan oleh daerah.

Mengingat pengalaman sebelumnya, penatan Struktur Organisasi (SO) Dinkes di daerah beragam. Akibatnya hubungan kerja Pusat,Propinsi dan Kab/kota tidak nyambung. Berbagai nomenklatur jabatan muncul. Pemangku jabatanpun beragam. Ada kepala dinas berlatar belakang Sarjana Hukum, Ada kepala Dinas atau Direktur RS Kab/Kota langsung dari Kepala Puskesmas, akibatnya banyak program kesehatan jalan ditempat.

Dengan keluarnya juknis dari DEpkes RI ini maka penataan organisasi akan lebih baik dari sebelumnya.

Beberapa pokok pikiran yang tertulis di Juknis ini antara lain:

A. Untuk menjamin obyektivitas, keadilan, dan transparansi pengangkatan PNS dalam jabatan struktural perangkat daerah bidang kesehatan dan guna menjamin keberhasilan tugas dan fungsi organisasi, perlu ditetapkan Persyaratan Jabatan Perangkat Daerah Bidang Kesehatan.


Syarat jabatan adalah sesuatu persyaratan yang harus dimiliki untuk memenuhi jabatan tertentu sesuai kemampuan dan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang PNS, berupa diklat penjenjangan dan perilaku yang diperlukan dalam melaksanakan tugas jabatan struktural yang dipangkunya.
Persyaratan jabatan sebagaimana dimaksud merupakan dasar pembinaan pola karir, untuk menjamin kepastian arah pengembangan karier PNS sebagaimana tertuang dalam PP No. 13 Tahun 2002 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural

B. Maksud dan Tujuan
Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah ini dimaksudkan guna memberikan panduan/acuan kepada Daerah dalam penataan kelembagaan organisasi dan tatalaksana di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah.
Pedoman Teknis pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah ini bertujuan untuk menyamakan pemahaman/persepsi di setiap level pemerintahan dalam penataan kelembagaan organisasi dan tatalaksana di lingkungan Dinas Kesehatan Daerah.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah meliputi :
1.
Penataan kelembagaan Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2. Penataan pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

D. Pengertian
1. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Pemerintah Daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;
5. Perangkat Daerah adalah lembaga yang membantu kepala daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah;
6. Eselon adalah tingkatan jabatan struktural;
7. Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang PegawaiNegeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara professional, efektif dan efisien;
8. Jabatan Struktural adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab,wewenang dan hak seseorang Pegawai Negeri Sipil dalam rangka memimpin suatu satuan organisasi Negara;
9. Pejabat Struktural yang dimaksud dalam pedoman ini adalah untuk jabatan Eselon II, III, dan Eselon IV;
10. Kompetensi Dasar adalah kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap pejabat struktural;
11. Kompetensi Bidang adalah kompetensi yang diperlukan oleh setiap pejabat struktural sesuai dengan bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya;

III. PENATAAN KELEMBAGAAN DINAS KESEHATAN DAERAH BERD ASARKAN UNDANG UNDANG NO. 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

Undang Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam implementasi pengorganisasian perangkat daerah telah memberikan arahan bahwa Pengorganisasian Perangkat Daerah disusun berdasarkan antara lain :

A. Urusan bidang kesehatan yang dimiliki Daerah
B. Karakteristik Urusan Kesehatan.
C. Potensi Daerah
D. Visi dan Misi

A. Urusan bidang kesehatan yang dimiliki daerah
Merujuk UU No. 32 Tahun 2004 Pasal 13 dan Pasal 14 penanganan kesehatan merupakan urusan yang wajib dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota, maka Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota harus dapat memenuhi hak-hak konstitusional bagi seluruh warga masyarakatnya, dalam bentuk pelayanan langsung kepada masyarakat. Sesuai dengan PP No 38 Tahun 2007 maka

Urusan bidang kesehatan yang menjadi urusan daerah, baik Daerah Provinsi maupun Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut :
a. Urusan Pemerintah Daerah Provinsi meliputi :


1) Bimbingan dan pengendalian standar, norma, prosedur,persyaratan dan kriteria bidang kesehatan.
2) Penyelenggaraan survailans epidemiologi, penyelidikan kejadian luar biasa/KLB dan gizi buruk lintas Kabupaten/Kota
3) Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular lintas Kabupaten/Kota.
4) Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala Provinsi.
5) Pemantauan penanggulangan gizi buruk.
6) Pengendalian operasional penanggulangan bencana dan wabah skala Provinsi.
7) Bimbingan dan pengendalian pelayanan kesehatan haji
8)Bimbingan dan pengendalian upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala Provinsi.
9) Bimbingan dan pengendalian Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional.
10) Pengelolaan Jaminan Kesehatan skala Provinsi
11) Penyediaan dan pengelolaan bufferstock obat Provinsi, alat kesehatan, reagensia dan vaksin lainnya.
12) Penempatan tenaga kesehatan strategis, pemindahan tenaga tertentu antar Kabupaten/Kota skala Provinsi.
13) Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan.
14) Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundangan-undangan.
15) Sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan, PKRT Klas II.
16) Pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing.
17) Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat.
18) Pemberian izin sarana kesehatan meliputi RS Pemerintah Klas B non pendidikan, RS Khusus, RS Swasta serta sarana kesehatan yang setara.
19) Pemberian rekomendasi izin industri komoditi kesehatan, PBF dan PBAK.
20) Pemberian izin PBF Cabang dan Industri Kecil Obat Tradisional.
21) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan Provinsi.
22) Pengelolaan survei kesehatan daerah skala Provinsi
23) Pemantauan pemantapan IPTEK Kesehatan
24) Pengelolaan pelayanan kesehatan rujukan sekunder dan tersier tertentu
25) Penyelenggaraan promosi kesehatan
26) Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala Provinsi.
27) Pembinaan, monitoring, pengawasan dan evaluasi skala Provinsi
28) Pendayagunaan tenaga kesehatan skala Provinsi.
29) Pelatihan diklat fungsional dan teknis skala Provinsi
30) Pengelolaan sistem informasi kesehatan lingkup Provinsi

b. Urusan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, meliputi :
1) Penyelenggaraan, bimbingan dan pengendalian operasionalisasi bidang kesehatan
2) Penyelenggaraan survailans epidemiologi, penyelidikan kejadian luar biasa/KLB dan gizi buruk
3) Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.
4) Penyelenggaraan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan skala Kabupaten/Kota.
5) Penyelenggaraan penanggulangan gizi buruk.
6) Pengendalian operasional penanggulangan bencana dan wabah skala Kabupaten/Kota.
7) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan haji setempat. 8)Penyelenggaraan upaya kesehatan pada daerah perbatasan, terpencil, rawan dan kepulauan skala Kabupaten/Kota.
9) Penyelenggaraan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Nasional.
10) Pengelolaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sesuai kondisi lokal.
11) Penyediaan dan pengelolaan bufferstock obat Provinsi, alat kesehatan, reagensia dan vaksin
12) Penempatan tenaga kesehatan strategis
13) Registrasi, akreditasi, sertifikasi tenaga kesehatan tertentu sesuai peraturan perundang-undangan.
14) Registrasi, akreditasi, sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundangan-undangan.
15) Pengambilan sampling/contoh sediaan farmasi di lapangan
16) Pemeriksaan setempat sarana produksi dan distribusi sediaan farmasi
17) Pengawasan dan registrasi makanan minuman produksi rumah tangga
18) Sertifikasi alat kesehatan dan PKRT klas I
19) Pemberian izin Praktik tenaga kesehatan tertentu
20) Pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Provinsi
21) Pemberian izin sarana kesehatan meliputi RS Pemerintah klas C, klas D, RS Swasta yang setara, praktik berkelompok, klinik umum/spesialis, Rumah Bersalin, Klinik Dokter Keluarga/Dokter Gigi Keluarga, Kedokteran komplementer, dan pengobatan tradisional serta sarana penunjang yang setara.
22) Pemberian rekomendasi izin PBF Cabang, PBAK dan industri kecil obat tradisional.
23) Pemberian izin apotik, toko obat.
24) Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan yang mendukung perumusan kebijakan Kabupaten/Kota.
25) Pengelolaan survei kesehatan daerah skala Kabupaten/Kota.
26) Implementasi penapisan IPTEK di bidang pelayanan kesehatan.
27) Pengelolaan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan sekunder.
26) Penyelenggaraan promosi kesehatan.
29) Perbaikan gizi keluarga dan masyarakat.
30) Penyehatan lingkungan.
31) Pengendalian penyakit.
32) Penyelenggaraan kerjasama luar negeri skala Kabupaten/Kota.
33) Pembinaan, monitoring, pengawasan dan evaluasi skala Kabupaten/Kota.
34) Pengelolaan sistem informasi kesehatan Kabupaten/Kota.

B. Karakteristik Urusan Kesehatan.
Berbeda dengan substansi urusan lainnya substansi urusan kesehatan mempunyai karakteristik yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan organisasi Dinas Kesehatan dari segi homogenitas dan bobot urusan. 1. Urusan kesehatan sebagaimana tertera di atas merupakan urusan yang bersifat konkuren. Ini berarti ada atau bahkan hampir seluruh urusan kesehatan penanganannya dapat atau dilaksanakan secara bersama baik antara Kabupaten/Kota dengan Provinsi maupun antar Kabupaten/Kota, seperti halnya dalam pemberantasan penyakit menular, dimana biasanya penyakit menular akan menjalar dengan cepat tanpa mengenal batas administratif. Secara substansial urusan kesehatan antara Provinsi dan Kabupaten/Kota juga nampak homogen. Hal ini sebenarnya akan mendukung pelaksanaan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi antar Provinsi dan Kabupaten/Kota.2. Substansi urusan kesehatan sebagaimana tersebut, sebagai hak konstitusional tentunya mempunyai sasaran seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
3. Bobot substansi kesehatan secara managerial juga nampak semakin kompleks dengan pengelolaan sumber dayanya,khususnya yang terkait dengan pembiayaan kesehatan, teknologi dan sumber daya manusia kesehatan. Perlu diketahui bahwa saat ini tidak kurang dari 24 jabatan fungsional yang perlu bimbingan, pembinaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.
4. Urusan kesehatan mempunyai kekhususan untuk menyelamatkan jiwa manusia (life saving), dan mengelola teknologi canggih.

C. Potensi Daerah
Besaran organisasi Dinas Kesehatan Daerah disamping melihat bobot substansi urusan kesehatan harus mempertimbangkan pula faktor kemampuan keuangan, kebutuhan daerah, cakupan tugas yang meliputi sasaran, tugas yang harus diwujudkan.Jenis dan banyaknya tugas, luas wilayah kerja, kondisi geografis, sarana dan prasarana serta sumber daya manusianya. Oleh karena itu besaran organisasi Dinas Kesehata Daerah bagi masing-masing daerah tidak senantiasa sama.

D. Visi dan Misi
Pola struktur organisasi harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata dan mengikuti strategi dalam pencapaian visi dan misi organisasi yang telah ditetapkan. Sebagai konsekuensi Negara Kesatuan, hubungan antara Pemerintah Daerah Otonom dengan Pemerintah Pusat adalah bersifat tergantung (dependent) dan bawahan sub ordinat. Oleh sebab itu seharusnya Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota mempuinyai kesamaan visi dan misi.

IV. POLA ORGANISASI DINAS KESEHATAN DAERAH
Dengan memperhatikan analisa situasi dan karakteristik urusan kesehatan seyogyanya pola pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah mempunyai pola sebagai berikut :
A. Diorganisasikan dalam suatu organisasi tersendiri
Memperhatikan kompleksitas berbagai permasalahan bidang kesehatan yang dihadapi sebagaimana tercermin dalam analisis situasi, dan mengingat bahwa pelayanan kesehatan merupakan hak konstitusional sebagaimana amanat Amandemen Kedua UUD 1945 Pasal 28 ayat (1) huruf h dan Pasal 34 ayat (4), sesuai dengan karakteristiknya dan mempunyai sasaran seluruh penduduk negeri tanpa terkecuali sejak konsepsi hingga lanjut usia serta sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, sepatutnya penanganan upaya kesehatan baik di Kabupaten/Kota maupun Provinsi dapat diorganisasikan sebagai perangkat Daerah tersendiri.
B. Organisasi matrik
Dengan berkembangnya jabatan fungsional seyogyanya organisasi Dinas Kesehatan Daerah tidak hanya berciri birokrasi, melainkan juga profesionalisme atau organisasi yang dapat mengintegrasikan organisasi struktural dengan organisasi fungsional.
Bentuk Organisasi yang dapat mengintegrasikan organisasi struktural dengan organisasi fungsional adalah organisasi matriks. Dalam organisasi matriks setiap pegawai bertanggung jawab pada dua pihak, yaitu kepada kepala unit organisasinya dalam hal kerja-timnya untuk mencapai tujuan organisasi, dan kepada Ketua Kelompok Fungsional dalam hal profesionalisme kerjanya. Sebagaimana kepala UPF, Ketua Kelompok fungsional bukan jabatan struktural melainkan jabatan non struktural yang dirangkap oleh seorang pejabat fungsional. Para Ketua Kelompok fungsional selanjutnya diwadahi dalam wadah yang juga non struktural yang disebut Komite Fungsional. Kerjasama antara Ketua Kelompok Fungsional dengan Kepala UPF dan Kepala sub unit organisasi struktural diharapkan dapat menghasilkan manajemen yang efektif dan efisien dalam mendayagunakan organisasi Dinas Kesehatan.
C. Berazas kontinuitas
Organisasi kesehatan Daerah baik pada level Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota hendaknya dapat menjamin kelangsungan penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Hal ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :
a. Seyogyanya antara Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat dihindari bentuk kelembagaan yang variatif, yang sering dapat mengakibatkan kesulitan dalam hubungan kerja antar level pemerintahan, karena perbedaan level eselon yang mengelolanya.
b. Hubungan antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten adalah saling bergantung (inter-dependency), maka akan lebih baik apabila organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencerminkan pula organisasi Dinas Kesehatan Provinsi. (Province wise)
D. Besaran Organisasi
Mengingat urusan kesehatan mempunyai sasaran seluruh penduduk, namun dalam besaran organisasi harus mempertimbangkan potensi daerah, maka besaran organisasi Dinas Kesehatan Daerah dapat dipertimbangkan dari kapsitas fiskal daerah dan jumlah penduduk :
1. Bagi daerah dengan kapasitas fiskal rendah, menganut pola minimal.
2. Bagi daerah dengan kapasitas fiskal sedang dengan kepadatan penduduk rendah, menganut pola minimal.
3. BagI daerah dengan kapasitas fiskal sedang dengan jumlah penduduk tinggi, menganut pola maksimal.
4. Bagi daerah dengan kapasitas fiskal tinggi, menganut pola maksimal.
E. Visi dan Misi
Untuk memudahkan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dalam pembangunan nasional, seyogyanya pola organisasi Dinas Kesehatan Daerah mengacu pada Visi sebagaimana RPJMN 2004-2009 dan Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010. Berdasarkan pertimbangan perkembangan masalah dan kecenderungan pembangunan kesehatan ke depan, Departemen Kesehatan menetapkan visinya yakni membangun masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. Sedangkan misinya adalah bagaimana Departemen Kesehatan mampu menjadi penggerak dan fasilitator pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh masyarakat termasuk swasta, sehingga rakyat hidup sehat baik fisik, sosial maupun mentalnya.

Sebagai penjabaran visi dan misi Departemen Kesehatan mempunyai 4 Strategi Utama (Grand Design) dan 17 Sasaran sebagai berikut :

1. Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat
a. Seluruh desa menjadi desa siaga
b. Seluruh masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat
c. Seluruh keluarga sadar gizi
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas.
a. Setiap orang miskin mendapat pelayanan kesehatan bermutu
b. Setiap bayi, anak, ibu hamil dan kelompok masyarakat resiko tinggi terlindungi dari penyakit.
c. Di setiap desa tersedia SDM Kesehatan yang kompeten
d. Di setiap desa tersedia cukup obat esensial dan alat kesehatan dasar,
e. Setiap Puskesmas dan jaringannya dapat dijangkau dan menjangkau seluruh masyarakat di wilayah kerja
f. Pelayanan kesehatan di setiap RS, Puskesmas dan jaringannya memenuhi standar mutu

3. Meningkatkan survailans , monitoring dan informasi kesehatan
a. Setiap kejadian terlaporkan secara cepat kepada Lurah/Kades untuk diteruskan ke instansi kesehatan terdekat.
b. Setiap KLB dan wabah penyakit dapat tertanggulangi secara cepat dan tepat sehingga tidak menimbulkan dampak kesehatan
c. Semua sediaan farmasi, makanan dan perbekalalan kesehatan memenuhi syarat.
d. Terkendalinya pencemaran lingkungan sesuai standar kesehatan
e. Berfungsinya sistem informasi kesehatan yang evidence baseds di seluruh Indonesia

4. Meningkatkan pembiayaan kesehatan
a. Pembangunan kesehatan memperoleh prioritas penganggaran di Pusat dan Daerah.
b. Anggaran kesehatan Pemerintah diutamakan untuk pencegahan dan promosi kesehatan.
c. Terciptanya sistem jaminan pembiayaan kesehatan terutama, bagi rakyat miskin.
Disamping grand strategi yang merupakan penjabaran visi dan misi Departemen Kesehatan sebagaimana tersebut di atas, perlu dijunjung tinggi nilai-nilai guna mewujudkan visi dan misi yaitu :
􀂾 Keberpihakan pada rakyat.
􀂾 Bertindak cepat dan tepat
􀂾 Kerjasama Tim
􀂾 Integritas yang tinggi
􀂾 Transparan dan Akuntabel.
F. Pengelompokan Urusan

Sesuai dengan PP No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah, pengelompokan urusan dilakukan dengan pemisahan fungsi staf dan fungsi lini. Kelompok fungsi lini diberi nomenklatur “Bidang” sebanyak-banyaknya 4 Bidang sedangkan pengelompokan fungsi staf diberi nomenklatur “Sekretariat”
Pengelompokan tugas dan fungsi berpegang pada urusan bidang kesehatan sebagai kewenangan daerah selaras dengan sasaran utama Departemen Kesehatan / Nasional sebagai prioritas sasaran.

G. ORGANISASI DINAS KESEHATAN KABUPATEN/KOTA
POLA I: MAKSIMAL
1. Bidang Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Penyelenggaraan upaya kesehatan dasar

Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar termasuk kesehatan komunitas.

b. Penyelenggaraan upaya kesehatan rujukan meliputi kesehatan rujukan/ spesialistik, dan sistem rujukan.
c. Penyelenggaraan upaya kesehatan khusus
Dalam penyelenggraan upaya kesehatan khusus meliputi : kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja, kesehatan haji, kesehatan gigi dan mulut.

2. Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan
a. Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit

Dalam penyelenggaraan pengendalian dan pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, imunisasi dan kesehatan matra.
b. Pengendalian Wabah dan Bencana
Dalam penyelenggaraan pengendalian wabah dan bencana meliputi kesiapsiagaan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.

c. Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan.
Dalam penyelenggaraan penyehatan lingkungan meliputi : penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta pengamanan limbah.
3. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan
a. Perencanaan dan Pendayagunaan.
b. Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan.
c. Penyelenggaraan Registrasi dan Akreditasi
Dalam penyelenggaraan registrasi dan akreditasi meliputi registrasi, perizinan dan akreditasi tenaga medis, tenaga para medis dan tenaga non medis/tradisional terlatih.
4. Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan

Dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan meliputi kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.
b. Pelayanan Sarana dan Peralatan Kesehatan
Dalam pelayanan sarana dan peralatan kesehatan meliputi : monitoring dan evaluasi, registrasi, akreditasi dan sertifikasi sarana dan peralatan kesehatan.
c. Penyelenggaraan kefarmasian.
d. Dalam penyelenggaraan kefarmasian meliputi obat, makanan dan minuman, napza, kosmetika dan alat kesehatan.

5. Sekretariat, mempunyai fungsi:
a. Penyusunan Program
Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi penyusunan program dan anggaran.
b. Penyelenggaraan Ketatausahaan.
Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan meliputi : urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
c. Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan
Dalam penyelenggaraan urusan keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti rugi, tindak lanjut LHP dan perlengkapan.

POLA II : POLA MINIMAL
1. Bidang Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Penyelenggaraan upaya kesehatan dasar
Dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dasar termasuk kesehatan komunitas.
b. Penyelenggaraan upaya kesehatan rujukan meliputi kesehatan rujukan/ spesialistik, dan sistem rujukan.
c. Penyelenggaraan upaya kesehatan khusus
Dalam penyelenggraan upaya kesehatan khusus meliputi : kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja, kesehatan haji, kesehatan gigi dan mulut.
23
2. Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan
a. Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit
Dalam penyelenggaraan pengendalian dan pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, imunisasi dan kesehatan matra.
b. Pengendalian Wabah dan Bencana
Dalam penyelenggaraan pengendalian wabah dan bencana meliputi kesiapsiagaan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.
c. Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan.
Dalam penyelenggaraan penyehatan lingkungan meliputi : penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta pengamanan limbah.
3. Bidang Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan
Dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan meliputi kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.
b. Pengelolaan Ketenagaan
Dalam pengelolaan ketenagaan meliputi perencanaan, pendayagunaan, pendidikan dan pelatihan; registrasi, perizinan dan akreditasi tenaga dan sarana kesehatan medis, tenaga para medis dan tenaga non medis/tradisional terlatih.
c. Penyelenggaraan Kefarmasian dan Sarana Kesehatan
Dalam penyelenggaraan kefarmasian meliputi obat, makanan dan minuman, napza, kosmetika dan alat kesehatan; registrasi, akreditasi dan sertifikasi sarana dan peralatan kesehatan.
4. Sekretariat
a. Penyusunan Program
Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi penyusunan program dan anggaran.
b. Penyelenggaraan Urusan Ketatausahaan.
Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan meliputi : urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
c. Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan
Dalam penyelenggaraan urusan keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti rugi, tindak lanjut LHP, dan perlengkapan.
Untuk tugas tugas yang tidak dapat ditampung dalam organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, seyogyanya dapat ditampung dalam organisasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas, seperti urusan data dan informasi, urusan promosi kesehatan dan lain lain

H. ORGANISASI DINAS KESEHATAN PROVINSI
POLA I: MAKSIMAL

1. Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Bimbingan dan Pengendalian (Bimdal) Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Dasar.
Dalam bimdal penyelenggaraan upaya kesehatan dasar termasuk kesehatan komunitas.
b. Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Rujukan meliputi bimdal kesehatan rujukan/ spesialistik, dan sistem rujukan.
c. Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Khusus

Dalam bimdal penyelenggraan upaya kesehatan khusus meliputi : bimdal kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja, kesehatan haji, kesehatan gigi dan mulut.
2. Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan
a. Bimdal Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit
Dalam bimdal penyelenggaraan pengendalian dan pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, imunisasi dan kesehatan matra.
b. Bimdal Penyelenggaraan Pengendalian Wabah dan Bencana
Dalam bimdal penyelenggaraan pengendalian wabah dan bencana meliputi bimdal kesiapsiagaan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.
c. Bimdal Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan.
Dalam bimdal penyelenggaraan penyehatan lingkungan meliputi : penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta pengamanan limbah.

3. Bidang Bina Pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan
a. Bimdal Perencanaan dan Pendayagunaan.
b. Bimdal Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan.

c. Bimdal Penyelenggaraan Registrasi dan Akreditasi
Dalam bimdal penyelenggaraan registrasi dan akreditasi meliputi registrasi, perizinan dan akreditasi tenaga medis, tenaga para medis dan tenaga non medis/tradisional terlatih.
4. Bidang Bina Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Bimdal Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan
Dalam bimdal penyelenggaraan jaminan kesehatan meliputi bimdal kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.
b. Bimdal Pelayanan Sarana dan Peralatan Kesehatan
Dalam bimdal pelayanan sarana dan peralatan kesehatan meliputi : monitoring dan evaluasi, registrasi, akreditasi dan sertifikasi sarana dan peralatan kesehatan.
c. Bimdal Penyelenggaraan kefarmasian.
Dalam bimdal penyelenggaraan kefarmasian meliputi obat, makanan dan minuman, napza, kosmetika dan alat kesehatan.

5. Sekretariat, mempunyai fungsi:
a. Penyusunan Program
Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi penyusunan program dan anggaran.
b. Penyelenggaraan Urusan Ketatausahaan.
Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan meliputi: urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
c. Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan
Dalam penyelenggaraan urusan keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti rugi, tindak lanjut LHP dan perlengkapan.

POLA II : POLA MINIMAL
1. Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Dasar
Dalam bimdal penyelenggaraan upaya kesehatan dasar termasuk kesehatan komunitas.
b. Bimdal Penyelenggaraan upaya kesehatan rujukan meliputi bimdal kesehatan rujukan/ spesialistik, dan sistem rujukan.
c. Bimdal Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Khusus
Dalam bimdal penyelenggaraan upaya kesehatan khusus meliputi : bimdal kesehatan jiwa, kesehatan mata, kesehatan kerja, kesehatan haji, kesehatan gigi dan mulut.
2. Bidang Bina Pengendalian Masalah Kesehatan
a. Bimdal Penyelenggaran Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit
Dalam bimdal penyelenggaraan pengendalian dan pemberantasan peyakit meliputi surveilans epidemiologi, pengendalian penyakit menular langsung, pengendalian penyakit bersumber binatang, pengendalian penyakit tidak menular, imunisasi dan kesehatan matra.
b. Bimdal Penyelenggaraan Pengendalian Wabah dan Bencana
Dalam bimdal penyelenggaraan pengendalian wabah dan bencana meliputi bimdal kesiapsiagaan, mitigasi dan kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.
c. Bimdal Penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan.
Dalam bimdal penyelenggaraan penyehatan lingkungan meliputi : penyehatan air, pengawasan kualitas lingkungan, penyehatan kawasan dan sanitasi darurat, sanitasi makanan dan bahan pangan serta pengamanan limbah.
3. Bidang Bina Jaminan dan Sarana Kesehatan, mempunyai fungsi :
a. Bimdal Penyelenggarakan Jaminan Kesehatan
Dalam bimdal penyelenggaraan jaminan kesehatan meliputi bimdal kepesertaan, pemeliharaan kesehatan dan pembiayaan.
b. Bimdal Pengelolaan Ketenagaan
Dalam bimdal pengelolaan ketenagaan meliputi perencanaan, pendayagunaan, pendidikan dan pelatihan; registrasi, perizinan dan

akreditasi tenaga dan sarana kesehatan medis, tenaga para medis dan tenaga non medis/tradisional terlatih.
c. Bimdal Penyelenggaraan Kefarmasian dan Sarana Kesehatan
Dalam bimdal penyelenggaraan kefarmasian dan sarana kesehatan meliputi obat, makanan dan minuman, napza, kosmetika dan alat kesehatan; registrasi, akreditasi dan sertifikasi sarana dan peralatan kesehatan.
4. Sekretariat
a. Penyusunan Program
Dalam penyelenggaraan penyusunan program meliputi penyusunan program dan anggaran.
b. Penyelenggaraan Urusan Ketatausahaan.
Dalam penyelenggaraan urusan ketatausahaan meliputi: urusan rumah tangga, kepegawaian, hukum dan organisasi, hubungan masyarakat.
c. Penyelenggaraan Urusan Keuangan dan Perlengkapan
Dalam penyelenggaraan urusan keuangan dan perlengkapan meliputi urusan perbendaharaan, akuntansi, verifikasi, ganti rugi, tindak lanjut LHP, dan perlengkapan.
Untuk tugas tugas yang tidak dapat ditampung dalam organisasi Dinas Kesehatan Provinsi, seyogyanya dapat ditampung dalam organisasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas, seperti urusan data dan informasi, urusan promosi kesehatan dan lain lain


V. PERSYARATAN JABATAN.
Berdasarkan Pasal 17 ayat (2) UU No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok Pokok Kepegawaian ditentukan bahwa pengangkatan dalam jabatan (fungsional dan struktural) berdasarkan prinsip profesionalisme sesuai dengan kompetensi, prestasi kerja dan jenjang pangkat yang telah ditetapkan.
Dalam mengimplementasikan kompetensi jabatan bidang kesehatan perlu mempertimbangkan hal-hal yang secara substansial terkait dengan sifat pembangunan kesehatan antara lain :
1. Pelayanan kesehatan terkait dengan pelayanan publik yang sangat spesifik yang bertujuan menyelamatkan jiwa manusia yang membutuhkan tingkat kompetensi yang tinggi yang diikuti dengan pengawasan, bimbingan dan pengendalian teknis oleh tenaga yang mumpuni.
2. Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan yang padat teknologi dan padat profesi, yang hingga saat ini tidak kurang dari 24 jabatan fungsional kesehatan,seperti:
A. Jabatan Fungsional Kesehatan :
1. Jabatan fungsional Dokter.
2. Jabatan fungsional Dokter Gigi
3. Jabatan fungsional Perawat
4. Jabatan fungsional Bidan
5. Jabatan fungsional Apoteker
6. Jabatan fungsional Asisten Apoteker
7. Jabatan fungsional Pengawas Farmasi,Makanan dan Minuman
8. Jabatan fungsional Pranata Laboratorium Kesehatan
9. Jabatan fungsional Entomolog Kesehatan
10. Jabatan fungsional Epidemiolog Kesehatan
11. Jabatan fungsional Sanitarian
12. Jabatan fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat
13. Jabatan fungsional Perawat Gigi
14. Jabatan fungsional Administrator Kesehatan
15. Jabatan fungsional Nutrisionis
16. Jabatan fungsional Fisioterapis
17. Jabatan fungsional Terapis Wicara
18. Jabatan fungsional Teknisi Elektromedis
19. Jabatan fungsional Refraksionis Optisien
20. Jabatan fungsional Okupasi Terapis
21. Jabatan fungsional Orthotik Prostetis
22. Jabatan fungsional Teknisi Gigi
23. Jabatan fungsional Transfusi Darah


B. Tenaga Jabatan Fungsional Nonkesehatan seperti :
1 Arsiparis;
2 Pranata Komputer;
3 Analis Kepegawaian;
4 Pranata Humas;
5 dll.
Sebagai penanggungjawab Upaya Kesehatan Masyarakat Strata kedua (Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota) dan Strata ketiga (Dinas Kesehatan Provinsi) dalam Sistem Kesehatan Nasional maka organisasi kesehatan khususnya Dinas Kesehatan Daerah baik Dinas Kesehatan Provinsi maupun Kabupaten/Kota dituntut tidak hanya berciri manajerial, melainkan juga harus berciri pelayanan.
Sejalan dengan ketentuan dimaksud guna menjamin keberhasilan pelaksanaan visi dan misi pembangunan nasional kesehatan,dan merujuk pada Keputusan

Kepala BKN No. 46A Tahun 2003, seorang Kepala Dinas Kesehatan diharuskan mempunyai kompetensi minimal sebagai berikut :
Kompetensi Dasar :
a. Integritas

Bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebojakan organisasi serta kode etik profesi dengan mempertahankan norma-norma sosial, etika dan organisasi walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya, sehingga terdapat satu kesatuan antara kata dan perbuatan.
b. Kepemimpinan
Kemampuan untuk menggerakkkan, memberdayakan, membimbing, mengarahkan, mendidik serta mengambil keputusan yang positif bagi staf dan pegawainya menuju ketujuan organisasi.
c. Perencanaan
Kemampuan untuk menggambarkan tujuan, memaparkan rencana, menganalisa untung ruginya, manfaat dan dampaknya, mengevaluasinya sehingga membawa kemajuan organisasi.
d. Penganggaran
Menguasai prinsip dan teknik penganggaran, mampu menelaah anggaran, merencanakan dan menyusun anggaran, mengetahui pola pengelolaan keuangan.
e. Pengorganisasian
Kemampuan mengatur dan mengelola sumberdaya, membagi tugas dan menjabarkan fungsi, menempatkan SDM sesuai dengan kualifikasi dan kompetensinya, membina kelancaran organisasi berdasarkan alur tugas, hak, kewenangan dan tanggung jawab.
f. Kerjasama
Kemampuan membangun kerjasama baik dalam lingkungannnya maupun dengan pemangku kepentingan, agar program dan kegiatan kerja yang dilaksanakan dapat dirasakan semua pihak.
g. Fleksibilitas
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dan bekerja secara efektif dalam situasi dan kondisi yang berbeda dengan berbagai individu atau unit kerja lain, dapat menghargai pendapat yang berbeda dan dapat menerima perubahan dalam organisasi.

Gambaran komponen dalam kompetensi dasar tersebut di atas, selama ini telah dilaksanakan dan tertuang dalam penilaian Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3).


Kompetensi Bidang :
a. Berorientasi pada Pelayanan (BpP)
Keinginan untuk membantu, melayani atau memberikan pelayanan kesehatan guna memenuhi kebutuhan masyarakat artinya selalu berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang menggunakan hasil kerja organisasi yang dipimpinnya baik internal maupun eksternal organisasi.
b. Berorientasi pada Kualitas (BpK)
Melaksanakan tugas-tugas dengan teliti berdasarkan standard an prosedur yang berlaku dan mempertimbangkan semua aspek pekerjaan yang dilakukan.
c. Berpikir Analitis (BA)
Kemampuan untuk memahami situasi atau masalah kesehatan dengan menguraikan masalah tersebut menjadi bagian – bagian yang lebih rinci, dan mengidentifikasi penyebab dari situasi atau masalah tersebut serta memprediksi akibatnya.
d. Berpikir Konseptual (BK)
Kemampuan untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan dalam pelaksanaan tugas, mengolah data beragam dan tidak lengkap menjadi informasi yang jelas, mengidentifikasi pokok permasalahan serta menciptakan konsep-konsep baru.
e. Keahlian Teknikal/Profesional/ Manajerial (KTPM).
Penguasaan pengetahuan bidang kesehatan berupa teknik, manajerial maupun profesional; serta memiliki motivasi untuk menggunakan dan mengembangkan serta memberikan advokasi kepada pihak-pihak yang terkait

Untuk memenuhi persyaratan jabatan, kompetensi dan perilaku secara obyektif dapat diukur dari: pendidikan, pelatihan, pengalaman kerja, etika, keterampilan kerja dan syarat psikologi.
Gambaran penjelasan uraian kompetensi Jabatan sebagaimana pada Lampiran 1.

VI. PERSYARATAN JABATAN STRUKTURAL DINAS KESEHATAN DAERAH
Yang dimaksud dengan jabatan struktural adalah jabatan yang secara tegas tercantum dalam struktur organisasi yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku. Jabatan struktural Dinas Kesehatan Daerah meliputi jabatan dalam organisasi Dinas Kesehatan Daerah.
Sesuai dengan uraian di atas dan merujuk Persyaratan Jabatan yang diatur dalam Pedoman Formasi Dan Persyaratan Jabatan Dinas Kesehatan Daerah, disamping telah memenuhi jenjang kepangkatan dan standar kompetensi umum yang telah ditetapkan, pejabat perangkat daerah bidang kesehatan mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan substansi kesehatan yang merupakan tugas pokok dan fungsinya harus mempunyai penguasaan bidang pengetahuan yang terkait dengan bidang kesehatan berupa penguasaan teknis,managerial maupun profesionalisme,serta memiliki motivasi untuk menggunakan dan mengembangkannya.
Jabatan-jabatan struktural Dinas Kesehatan Daerah yang menjadi cakupan dalam bahasan ini meliputi : (1) Jabatan Kepala Dinas, Sekretariat, Kepala Bidang, Kepala Subbagian dan Kepala Seksi pada Dinas Kesehatan Daerah. (2) Jabatan Kepala UPTD.

Untuk dapat diangkat dalam suatu jabatan struktural dalam lingkup Dinas Kesehatan Daerah harus memenuhi syarat minimal sebagai berikut :


1. Pendidikan
Pendidikan yang diakui adalah berdasarkan ijazah yang dimiliki oleh calon pemangku jabatan. Pendidikan tersebut dari berbagai disipilin ilmu yang dibutuhkan di lingkungan kesehatan dari Universitas/Perguruan Tinggi, Politeknik/AkademiKesehatan baik negeri maupun swasta dari dalam maupun luar negeri yang sudah mendapat akreditasi dari Departemen Pendidikan Nasional.
Pada prinsipnya setiap eselon jabatan mempunyai persyaratan sebagai berkut :
Kepala Dinas Kesehatan :
Eselon II A dan II B dipersyaratkan minimum Magister/SP1 Kesehatan atau yang disetarakan (Dokter, Dokter Gigi, Apoteker, Psikolog, Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Sarjana Kesehatan lainnya).
Bidang/Seksi di lingkungan Dinkes :
a. Eselon IV A dan IV B yang merupakan jabatan teknis kesehatan dengan tingkat pendidikan minimum Diploma III Kesehatan atau yang disetarakan.

b. Eselon III, dipersyaratkan minimum Sarjana / Diploma IV Kesehatan atau yang disetarakan (Dokter, Dokter Gigi, Apoteker, Psikolog, Sarjana Kesehatan Masyarakat dan Sarjana Kesehatan lainnya)

Sekretariat/Subaggian di lingkungan Dinkes :
a. Eselon IV yang merupakan jabatan teknis umum dengan tingkat pendidikan minimum Diploma III atau yang disetarakan sesuai kompetensinya.
b. Eselon III, dipersyaratkan minimum Sarjana/ Diploma IV atau yang disetarakan sesuai kompetensinya.

Untuk menjamin profesionalitas, pejabat kesehatan daerah yang diangkat yaitu berpendidikan Dokter, Dokter Gigi, Sarjana Kesehatan Masyarakat, Apoteker dan Sarjana Kesehatan lainnya.
2. Pelatihan
Persyaratan pelatihan dibedakan antara persyaratan umum dan persyaratan khusus

a. Persyaratan umum
Sebagai persyaratan untuk menduduki jabatan struktural tertentu yaitu pelatihan struktural yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah bagi Pegawai Negeri Sipil adalah sebagai berikut :
1) Diklatpim Tk. II : Untuk pejabat eselon II
2) Diklatpim Tk. III : Untuk pejabat eselon III
3) Diklatpim Tk IV : Untuk pejabat eselon IV


b. Persyaratan khusus
Disamping persyaratan umum,ditetapkan persyaratan lain secara khusus berlaku untuk pengangkatan pada jabatan kesehatan yaitu Diklat teknis antara lain :
1) Administrasi kesehatan/Manajemen kesehatan, harus diikuti oleh semua pejabat dari eselon III sampai ke eselon II agar memiliki wawasan pengadministrasian/pengelolaan pelayanan kesehatan dengan baik
2) Spesifik untuk jabatan yang harus diikuti oleh calon pejabat tertentu agar mempunyai kompetensi yang dituntut bagi pemangku jabatan tertentu.
3. Kepangkatan
Untuk menduduki suatu pada eselon tertentu,seorang PNS minimal harus mempunyai golongan kepangkatan tertentu sebagaimana diatur dalam Peraturan Perundangan yang berlaku, yaitu sebagai berikut :
a. Eselon II sudah menduduki golongan pangkat IV/b untuk eselon IIA dan golongan IV/a untuk eselon IIB.
b. Eselon III sudah menduduki golongan pangkat III/d untuk eselon IIIA dan golongan III/c untuk eselon IIIB
c. Eselon IV sudah menduduki golongan pangkat III/b untuk eselon IVA dan golongan pangkat III/a untuk eselon IVB

4. Pengalaman Kerja
Pengalaman memangku jabatan struktural kesehatan dan jabatan fungsional kesehatan merupakan persyaratan untuk menduduki suatu jabatan struktural kesehatan. Persyaratan untuk setiap eselon adalah sebagai berikut :

a. Untuk eselon II A sudah pernah menduduki jabatan eselon II B atau jabatan fungsional kesehatan yang disetarakan dengan golongan pangkatnya.
b. Untuk eselon II B sudah pernah menduduki jabatan eselon III A dalam dua jenis jabatan yang berbeda (tour of duty area) atau jabatan fungsional kesehatan yang disetarakan dengan golongan pangkatnya.
c. Untuk eselon III A dan III B sudah pernah menduduki jabatan kesehatan eselon IV A atau IV B atau jabatan fungsional kesehatan yang disetarakan dengan golongan pangkatnya.
d. Untuk eselon IV A dan eselon IV B sudah pernah menduduki jabatan fungsional kesehatan yang disetarakan dengan golongan pangkatnya atau jabatan non struktural dengan pendidikan bidang kesehatan.

PENUTUP
Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah ini disusun dengan harapan dapat memberikan kesamaan pemahamam bobot substansi urusan kesehatan di Daerah, jaringan pelayanan kesehatan dan sumberdaya kesehatan, untuk dapat memberikan dasar pemikiran bagi pengorganisasian kesehatan di Daerah guna memberikan referensi dalam pembuatan kebijakan yang mengatur pengorganisasian kesehatan di Daerah.
Penetapan persyaratan jabatan bagi perangkat daerah bidang kesehatan merupakan instrumen penataan jabatan yang mendasar untuk menjamin profesionalisme. Tentu saja penetapan persyaratan jabatan merupakan hal yang dinamis, yang perlu terus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kebutuhan dan perkembangan organisasi. Namun yang terpenting adalah komitmen yang tinggi dari berbagai pihak berwenang dalam penerapan pelaksanaannya yang transparan, jujur dan berkeadilan.



Surabaya 12 Juni 2008

Juni 12, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: